Friday, November 7, 2008

Warung kopi

Ada persoalan penting yang sangat erat hubungannya antara warung kopi dan Bojonegoro. Beberapa tahun yang lalu tengah kota Bojonegoro sangat penuh dengan warung kopi yang berjajar hampir di seluruh trotoar utama. Hampir tak ada lahan kosong. Semuanya berisi warung kopi atau warung jajanan lain. Bojonegoro identik dengan warung kopi dan jagongan.

Bojonegoro telah menyuburkan usaha-usaha informal khusus melayani warganya yang tidak kebagian jatah untuk berkarya. Sejarah mencatat bahwa yang mampir ke warung kopi di Bojonegoro berasal dari berbagai lapisan masyarakat--mulai pejabat sampai penjahat, mulai guru sampai siswa dan mulai penguasa samapi yang tidak berdaya. Buday jagongan ngalor ngidul adalah yang trend di kota Bojonegoro. Pejabat yang tidak mendapat proyek lari mencari tempat yang aman untuk mengibati sakit hatinya. Penjahat yang tak mau lagi masuk penjara nebeng ngopi bersama pejabat. Wartawan mencatat kejadian ini sebagai momentum curhat yang layak dimuat. Ada banyak celah-celah yang bisa menjadi bahan berita. Guru memperkuat kondisi ini dengan sedikit gaul dengan para penganggur. Dan siswanya tahu sekali bahwa di Bojonegoro banyak polisi tidur. Budaya ngopi dan ngobrol ngalor ngidul dijadikan wadah untuk menyalurkan aspirasi.

Pada waktu ngobrol dengan seorang teman yang berasal dari kabupaten lain, kami punya pandangan yang hampir sama. Budaya ngopi dan ngobrol ngalor ngidul ini sudah akut dan tidak mendidik. Di daerahnya, katanya, semua orang merasa malu kalau terlihat masuk ke warung kopi terutama di pagi hari. Para pemuda yang menganggur tidak pernah berani menampakkan diri di warung kopi. Semua orang memilih untuk bekerja apa saja yang bisa menghindarkan diri dari gunjingan orang. Banyak sekali home industry yang bisa mereka datangi dan mampu memberikan pekerjaan pasti. Kalau tidak, mereka akan berangkat ke sawah. Waktu mereka habis untuk bekerja dan tidak sempat samabang ke warung kopi.

Korupsi berjamaah

Kalau sampeyan sholat, yang berjamaah tentu lebih afdlol. Sesuatu yang dilakukan bersama-sama menjadi suatu budaya yang lebih kuat dibandingkan bila hanya dilakukan oleh satu orang saja. 'Korupsi berjamaah' adalah sebuah istilah yang sempat dirilis oleh pengamat politik di Bojonegoro. Walhasil, pada saat penggerebekan pelaku korupsi seperti sekarang ini, banyak pentolan di kalangan birokrat yang masuk dan masuk ke dalam penjara. Sudah menjadi trend. Layaknya sebuah fashion show, kalau tidak mengikuti trend berarti sangat ketinggalan jaman. Orang yang ketinggalan jaman ya tidak lagi pantas menjabat di birokrasi manapun.

Korupsi di kita merupakan 'trade mark' pejabat yang berkuasa. Mereka adalah orang-orang yang pernah mengikuti sistem pendidikan jaman dahulu yang terkenal dengan produk pendidikan moral berupa P4. Hampir semua yang terlibat korupsi sekarang ini bisa dipastikan sudah mengikuti penataran moral. Setelah ditatar, hasilnya bisa kita rasakan bersama. Negara kita juga terpuruk karena pejabatnya dan mengikuti penataran moral yang menganjurkan sistem kerja gotong royong. Korupsi juga harus gotong royong. Kalau korupsi dilakukan sendiri biasanya dilabeli dengan 'maling'.

Bojonegoro sebagai kota di pinggiran bengawan Solo sudah mengalami kemajuan yang banyak dengan mendaftarkan beberapa pejabat dan mantan pejabat sebagai pengikut 'korupsi berjamaah.